Meluruskan paradigma soal mobil nasional

05Jan12

Note: Postingan ini adalah full version tulisan lama  di harian Jurnal Nasional,  3 Oktober 2011

Pandangan negatif Johnny Darmawan  terhadap mobil nasional yang dilaporkan beberapa media daring tak pelak membuat heboh milis, blog, dan jejaring sosial. Sebagain besar masyarakat kecewa terhadap pernyataan direktur agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil terbesar se-Indonesia tersebut. Kekecewaan masyarakat itu cukup bisa dipahami.  Sudah lama bangsa Indonesia  mendambakan adanya produk mobil dalam negeri, namun pada masa orde baru harapan itu dicederai (abused) oleh pemerintah sendiri dengan kebijakan yang bermuatan nepotisme.

Sampai  saat ini, pada masa reformasi-pun tidak tampak bahwa pemerintah sangat peduli dengan perkembangan mobnas. Tidak banyak kebijakan yang mendukung mobnas. Kehadiran beberapa pejabat di stan-stan pameran mobnas, tak lebih sekedar ajang menampakkan diri, kalau tidak boleh dibilang dukungan palsu; kelihatan sangat mendukung, namun kenyaataannya tidak ada satupun kebijakan industri yang mendukung perkembangan mobnas. Namun sebaliknya, pemerintah pada akhir tahun ini, jika sesuai rencana,  akan mengeluarkan peraturan pemerintah soal ecocar, dimana pemerintah akan memberikan insentif kepada produsen mobil-mobil yang ramah lingkungan berharga murah. Mobil semacam itu akan mempunyai mesin dengan volume mesin(cc)  kecil dengan harga jual kendaraan yang murah dimana segmen tersebut adalah segmen pasar mobnas. Tentu saja, insentif seperti itu akan lebih menguntungkan ATPM yang mempunyai kesiapan teknologi, merk, dan jaringan pasar.

Sikap negatif pelaku bisnis otomotif di Indonesia mudah dipahami, semata-mata persoalan bisnis, mereka membawa misi prinsipal-nya untuk menjamin keuntungan dan keberlanjutan bisnis. Namun sikap pesimis beberapa orang Indonesia terutama sikap pesimis pejabat pemerintah sangat layak diluruskan. Barangkali pemerintah punya persepsi mirip dengan mereka yang berpandangan bahwa tidak terlalu penting mengembangkan produk mobil nasional, toh  mobil-mobil yang sekarang ada sudah dibuat di Indonesia. Lagi pula, menurut pihak yang kontra,  sektor ini juga sudah banyak menyerap banyak tenaga kerja, lalu apalagi.

Perlu dipahami membangun industri mobnas bukan hanya persoalan tenaga kerja, sampai tahun 2008, sektor kendaraan bermotor roda empat  hanya mempekerjakan sekitar 35.7 ribu orang. Angka tersebut adalah peringkat kesekian dibanding pekerja sektor lain pada industri sedang dan besar. Tidak mau mengatakan bahwa angka itu kecil, namun dibanding sektor makanan dan minuman (721 ribu), maka angka itu  relatif kecil. Sampai saat ini, industri otomotif adalah berkonsep ATPM, dimana margin dana riset dan pengembangan tetap kembali ke negara prinsipal terlepas di mana lokasi mobil dibuat.

Fakta menyebutkan bahwa selama ATPM hadir di Indonesia, tranfer teknologi tidak pernah terjadi.  Tranfer teknologi bisa ditandai dengan  terjadinya akuisisi, implementasi dan pengembangan teknologi tertentu, lalu diikuti dengan kemampuan  secara mandiri mengembangkannya, misal pengembangan produk baru. Sebuah penelitian membuktikan bahwa selama kurun waktu 1967-2000, tidak ada transfer teknologi yang signifikan sebagai akibat  adanya industri otomotif di Indonesia (Wie, 2001).

Cukup bisa dipahami jika transfer teknologi tidak pernah ada, kanal-kanal tranfer teknologi, sebagai contoh investasi asing (FDI) dan lisensi teknologi  tidak pernah bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dengan kebijakannya, di samping yang lebih utama adalah keengganan prinsipal asing untuk mentransfer teknologinya  (Tarmidi, 2001). Sebagai contoh, sampai  setengah abad lebih mobil Jepang di indonesia, tidak ada divisi research  dan development (R&D) khusus oleh prinsipal Jepang di Indonesia, lebih-lebih pada teknologi yang dominan, seperti karburator, atau sistem injeksi. Maka tentu tidak ada banyak kontribusi bagi pengembangan dan akumulasi ilmu pengetahuan dan teknologi  di Indonesia.

Barangkali menarik dicatat, satu mobil kurang lebih tersusun dari 30 ribu komponen independen.  Ilmu dan teknologi yang dibutuhkan untuk merancang, memproduksi dan merangkai komponen sebanyak itu sangat multi disiplin, dari ilmu teknik mesin, elektro, sampai ilmu bahan.  Bidang lain yang cenderung ke arah art semacam  ilmu desain dan seni rupa bisa digunakan untuk membuat rancangan mobil  dengan tampilan menarik sekaligus memaksimumkan fungsi-nya. Untuk mendapatkan produk yang  cost efficient, maka ilmu ekonomi dan manajemen dibutuhkan.

Dilihat dari segi multidisplin-nya itu,  kita akan tahu bahwa dengan membangun industri otomotif berarti juga membangun ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Lagi pula, IPTEK bila telah dikuasai juga akan bersifat adaptable.  Maka akumulasi  juga memberi dampak positif pada kemajuan di bidang lain  Hal ini memberikan semacam  spillovereffect berupa pengembangan bidang atau aplikasi lain itu, misalnya berkembanganya industri otomotif sangat potensial membawa kemajuan  di bidang alat alat pertanian atau  energi terbarukan.

Penelitian Argon Nasional Laboratory di Amerika, sekitar 6% dari harga yang total sebuah mobil, adalah besaran dana R&D untuk membuat sebuah mobil tersebut . Angka ini akan sangat tinggi jika melihat  bahwa kurang lebih 600-700 ribu unit kendaraan roda empat terjual di Indonesia per tahunnya. Di sana, sebagaian dari dana itu mereka gunakan untuk membiayai riset mahasiswa dari sarjana S1 hingga doktor.  Tak mengherankan jika kemampauan IPTEK mereka simultan dengan jumlah tenaga ahlinya makin lama  akan makin menumpuk, jauh lebih maju dan banyak dari negara-negera tempat ATPM mereka berada. Mengingat dana riset Indonesia termasuk terkecil di dunia (0.1% dari GDP) maka angka tersebut di atas sangat stretegis  untuk membiayai penelitian penelitian bersama antara perusahaan dan universitas.

Jadi pembangunan industri mobnas di Indonesia, tidak hanya persoalan tenaga kerja, tidak juga hanya menyangkut kebanggaaan karena memiliki produk dalam negeri. Tapi lebih jauh dari itu, mendukung kemajuan mobnas, berarti mendukung akumulasi IPTEK, membangun sumber daya manusia Indonesia. Dan pada akhirnya mendukung tercapainya cita cita Indonesia sebagai negara yang maju yang bercirikan dengan kemajuan ekonomi berbasis IPTEK.

salam

Suwarno



No Responses Yet to “Meluruskan paradigma soal mobil nasional”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: