Memprediksi nasib Gea!

26Jul09

Hari ini saya tertarik memprediksi nasib Gea! Gea tentu bukanlah Gea si gadis Indonesian Idol, bukan juga Gya si penyanyi cewek yang bersuara merdu itu. GEA adalah kependekan dari Gulirkan Energi Alternatif (Sound strange, huh?) Adalah mobil yang diproduksi oleh INKA madiun si pabrik kereta api yang dulu pernah juga memproduksi kendaraan dengan  nama Kancil. By the way kemanakah si Kancil itu ya! Barangkali Gea inilah generasi penerusnya.

Gea menarik buat saya, pertama karena ini adalah kesekian kalinya mobil nasional atau mobnas diproduksi di Indonesia. Kedua, ada ramai-ramai di Indonesia bakalan ada insentif (Bisnis Indonesia, 25 July 2009), entahlah berupa apa, dari pemerintah untuk mobil yang katanya bisa menunjang kelestarian lingkungan dan penghematan energi, sebutlah economically efficient  and  environtmentally friendly…Dan yang ketiga, corporasi besar dunia dari India; Tata ( FYI: company ini dikenal sebagai produsen baja) sekarang telah memproduksi mobil sekelas dengan Gea. Rencananya Tata juga akan memasarkan produknya itu di Indonesia.

Mari bicara mobnas. Saya tidak bisa tidak harus menyebut nama Habibie di sini. Saya pikir Professor yang satu itu adalah satu dari sedikit orang Indonesia  yang bervisi cemerlang. Meski banyak juga yang menyalahkannya pada hal-hal lain, semacam kasus IPTN. Pak Habibie lah yang terbukti sangat antusias membangun kemajuan Teknologi di Indonesia. Menyangkut mobnas, awal tahun 90 an, pak Habibie sudah-ancang ancang bikin mobnas itu. Tahun 1996 desain dan prototype sudah selesai dan ramai di TV nasional, bersamaan tentunya dengan pesawat Gatot Kaca yang luar biasa ramai, sampaisampai banyak bocah kecil bercita-cita bikin pesawat. Rencananya tahun 1998 mobnas pertama itu akan diproduksi masal. Itu project serius karena puluhan insinyur dari IPTN, BPPT dll terlibat. Tapi, belum juga si mobnas yang bernama Maleo ini muncul, si Timor muncul duluan. Tentu mobil Timor ini cuman adopsi dari korea sana bukan produk dalam negeri. Yah itu kelakuan Mr Tommy suharto. Dan akhirnya si Maleo tidak jadi diproduksi, pertama karena keduluan mobil timornya Tommy dan yang kedua krisis nasional di Indonesia. Mobnas pertama gagal.

Dan kini ada Gea, dan Gea setahu saya bukan proyek nasional yang didukung penuh pemerintah seperti halnya Maleo dulu. Selain Gea ada juga mobil produksi nasional yang lain semacam Arina, Tawon untuk jenis city car dan Komodo untuk track khusus, ada juga mobil buatan anak anak SMK! Kalau tertarik bisa melihat di Youtube…well begitu banyak mobil nasional rupanya, atau paling tidak kita (Indonesia) bisa membuat mobil, dan jadi ingat oh iya ya, jangankan mobil pesawat ajah kita bisa. Nah, tentu saja hal itu akan menjadikan otak  jadi semakin paradoxial  atau mumet, ya kalau gitu kenapa kita harus nyetor laba tahunan ke Jepang sana?

Tapi marilah sebelumnya kita berkunjung ke Taiwan. Sejak tahun 90-an sampai saat ini Taiwan termasuk negara produsen semikonduktor besar di dunia, tahun 2001 mereka menguasai pasar IC dunia sebanyak 79%. Mereka juga kuat di sektor komunikasi dan telekomunikasi. Salah satu faktor keberhasilan mereka adalah tidak lain  karena kebijakan pemerintah Taiwan yang sejak tahun 1970 sudah mulai memberikan keberpihakan pada industri itu. Keperpihakan di sini bisa dalam berbagai macam regulasi dan insentif-insentif agar teknologi tertentu dapat tumbuh di dalam negeri. Jadi apa yang kita pelajari dari Taiwan adalah keperpihakan ke dalam negeri. Contoh lain, Industri solar energy di Jerman bisa tumbuh lebih dari 400% sejak 2002, sebab pemerintahnya berpihak pada sektor itu.

Kembali ke Gea, konon kabarnya si Gea mau di jual 45 juta rupiah on the road, well 600 CC. Si pesaing dari Tata yang mereka sebut Nano atau sebutlah Tata nano di India dibandrol 25 jutaan rupiah. Kedua mobil ini tidak hanya akan megandalkan bodi mungilnya yang konon tidak menyesakkan jalan. Namun mereka akan juga bicara soal ramah lingkungan sebab CC mesin yang kecil berarti hemat energi, berarti hemat BBM, dan berarti pula akan memproduksi gas CO2 rendah. Sebagai tambahan, soal mobil ramah lingkungan tentu kita akan ingat Toyota Prius, toyota Prius masih mahal di Indonesia, karena masih diimport total dari luar negeri, pajaknya bisa sampai 45%. Toyota dan Tata tentu akan melobby pemerintah soal insentif untuk mobil ramah lingkungan (Bisnis Indonesia 25 Juli 2009).

Jadi mari kita tunggu akan kemanakah insentif itu; untuk si Gea, Prius, atau Nano, atau justru tidak akan pernah ada? Dan Gea? Siapa tahu takdirmu. Dan saya lebih baik mengundurkan diri dari soal prediksi-memprediksi ini. Kata Neils Bohr, memprediksi itu sulit, apalagi menyangkut masadepan. Kalau kata saya, memprediksi itu…entahlah, apalagi soal Indonesia.

Salam
w…
NB: Selamat dan sukses untuk Komodo produk dalam negeri!

mobnas2Varian mobil-mobil produksi dalam negeri



5 Responses to “Memprediksi nasib Gea!”

  1. 1 Ridwan Hasan

    Kemajuan Industri sudah pasti harus didukung kebijakan penuh pemerintah hal ini suda pasti & sudah menjadi hukum alam. Coba Kita lihat konglomerasi yang ada di Indonesia apa mereka bisa besar kalau tidak mendapat dukungan dari pemerintah, mulai dari Om Lim, Bakri, dll. Group Astra & Indomobil tidak akan besar kalau tidak didukung pemerintah. Tapi anehnya group2 konglomerasi yg bisa bertahan hanya mereka yg berpihak & membela produk luar (terutama jepang). Bangsa Kita sudah beberapa kali mencoba membangun mobnas tapi gagal…kenapa …?, termasuk ambisi marimutu s. membuat prusahaan truk PERKASA & pusat industri strategisnya ambruk karna dililit utang 30 trl…kenapa……!!?
    Kelihatanya pemerintah tidak berdaya untuk melindungi perusahaan2 yg berambisi ingin membangun industri2 yg menghasilkan produk2 berteknologi tinggi tsbt.
    Jika saja bangsa ini mampu membuat misalnya mobnas dampak dominonya tentu akan besar & tentu saja kedepannya bangsa Kita akan semakin mandiri di semua sektor. Kalau saat ini mulai dari bangun tidur mulai lihat jam, AC, mesin cuci, kulkas, kompor, TV sebagian besar peralatan RT made in CHINA, keluar rumah naik mobil / motor made in Jepang/Korea/India/Eropa/Malaysia, kemudian sampai kantor buka laptop/PC made in CHINA/Thailand/Malaysia. (kalau disimpulkan mulai bangun tidur sampai kemanapun berada selama di Indonesia semua bukan made in Indonesia yg ditemukan).
    Bahkan saat ini durian saja sudah dikuasai oleh made in THAILAND kalau dahulu durian montong bisa kita dapat hanya di supermaket kalau sekarang di kaki lima juga sudah banyak & harganya lebih murah dari durian lokal….kenapa…!!!!?
    Kalau sudah demikian bangsa ini arahnya mau dibawa kemana…? semuanya import…..!!!
    Atau memang benar kata pengamat, pemerintah saat ini kiblat ekonominya ke arah NEOLIB….?!!!, bukan PRO Rakyat lebih pro pasar (kepentingan ekonomi asing)…
    ………entahlah

  2. 2 Ribossa

    Sampai kapanpun Indonesia tidak akan maju di bidang mobil nasionalnya, kenapa ??? karena pemerintah masih tetap merespon mobil-mobil asal luar negeri yang akan di jual di Indonesia. Jadi menurut hemat saya pemerintah mau tidak mau harus mendukung dan menggerakkan kegiatan produksi otomotif asli buatan Indonesia, bukan seperti Timor tetapi mesinnya Hyundai, Kancil tetapi mesinnya Subaru dan lain sebagainya. Kalau bicara soal mutu atau performa mesin, itu tidak usah dipersoalkan, yang penting buat dulu dan harganya memang dibuat semurah-murahnya agar masyarakat mampu membelinya dengan sendirinya masyarakat itu yang mempromosikan mobil asli buatan Indonesia. Kesuksesan ini bisa menaikkan mutu dari mesin, chassis, body maupun elektroniknya. Saya yakin sangat anak-anak Indonesia percaya diri bisa mengalahkan ahli permesinan dari luar negeri. Amiiin !

  3. 3 Aculqu

    Katanya new Gea sudah ada, tapi kapan dijual di Show room , saya mau beli jika harganya sama dengan Tata Nano Rp 25 juta on the road. Saya akan banggakan hasil produksi saudaraku anak Indonesia.

  4. 4 gajahmodo

    kayaknya kecil bgt kemungkinan mobil dengan harga murah seperti mobnas dapat berdar, soalnya mereka yang duduk diatas tu beda pikiran ma kita-kita orang bawah,

  5. 5 unalista

    Memang semua penentu kebijakan di negeri tercinta ini lebih memikirkan keuntungan sendiri dengan menjual negara pada luar negeri demi kekayaan sendiri, lebih mementingkat cukong cukong luar negeri yang memberikan uang untuk kantung sendiri dengan menjual rakyatnya sendiri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: