Menulis untuk LKTI (1)

23Oct08

Suatu pagi saya menerima SMS dari adik saya yang baru masuk kuliah semester satu, ia bertanya pada saya bagaimana menulis sebuah karya tulis ilmiah. Tentu saja saya langsung menduga bahwa yang dimaksud adik saya adalah menulis semacam makalah yang diikutsertakan dalam lomba seperti LKTI (lomba karya tulis ilmiah). Maka entry blog saya hari ini adalah tentang menulis suatu makalah yang biasanya disebut karya tulis ilmiah (meski pada dasarnya karya tulis ilmiah itu beragam variasinya contoh lain essay, paper, atau tugas akhir, laporan praktikum etc). Tulisan ini saya khususkan untuk mahasiswa/mahasiswi yang masih berada di tingkat awal university.

Saya sendiri bukan orang yang sangat ahli dalam hal ini, tetapi semasa menjadi mahasiswa S1 saya pernah menulis dua makalah LKTI, salah satunya pernah menang. Jadi di sini saya ingin membagi pengalaman. Tadinya saya hanya cukup menulis di email saja. Tapi saya pikir hal seperti ini layak juga dibagi kebanyak mahasiswa yang lain, yang barangkali juga membutuhkan.

Secara pribadi menganggap menulis adalah proses yang menyenangkan, semacam hobby (ada hobby yang tidak menyenangkan, kah? 🙂 ). Kalo teman teman saya yang lain (sebagain besar) hobby main bola, main bola basket, ngegame, dst. Saya hobby nulis. Yang pertama karena saya tidak suka olahraga kecuali bilyard (bilyard olahraga, bukan yak?). Kenapa saya nggak suka ngegame, karena saya selalu kalah, dan kalau kalah saya frustasi, jadi saya tidak pernah sekali pun suka game, apapun gamenya. Jadi intinya, cobalah untuk jatuh senang pada menulis sejak awal. Kalo bisa anggap sebagai hobby tadi. Dari sini proses dimulai.

Berikutnya, untuk bisa menulis, pertama dan mendasar adalah tahu apa yang akan ditulis. Kebanyakan teman-teman yang tidak suka menulis akan berkomentar bahwa mereka tidak tahu apa yang akan mereka tulis. Saya sebenarnya tidak percaya bahwa mereka tidak tahu apa yang seharusnya ditulis. Jadi kini menurut saya ide, bisa di dapat dari tiga hal (1) observasi, (2) membaca (3) diskusi.

Menyangkut yang pertama, observasi ini semacam menggunakan kelima indra kita untuk membaca lingkungan, membaca alam dan sebagainya. Contohnya kalo lagi musim hujan terus banjir, kita akan dapat ide… Banjir. dari sini bisa dikembangkan kebanyak hal misal penyebab dan mungkin cara mengatasinya. Contoh lain, udara makin panas di surabaya sebagai contoh, lalu kita akan tanya, kenapa bisa panas, mungkin kita akan bisa arahkan ke global warming. Dari mana kita bisa tahu tentang pemanasan global? (Jawabnya: bisa dari saat lihat iklan di TV 🙂 ). Dari global warming sebagai titik berangkatnya kita akan bertanya kira-kira penyebabnya apa? misal jawabnya adalah polusi kendaraan bermotor. Lalu kita tanya lagi kenapa? bisa enggak dikurangi? Etc.

Kedua adalah membaca. Membaca adalah element paling penting dalam menulis. Bisa dipastikan seseorang yang tidak pernah membaca tak akan bisa menulis. Ide tentu bisa di dapat dari membaca. Ketika anda baca koran bagi hari setiap headline pada kenyataannya adalah ide. Misal tentang berita kenaikan BBM. Dari sini mungkin akan ada ide bagaimana supaya suatu alat bisa hemat BBM (jika anda seorang mahasiswa mesin). Atau kalo anda mahasiswa teknik kimia, mungkin punya cara untuk mengganti BBM dengan alternative lain. Dan seterusnya. Kalo kuliah kamu sangat spesifik, misalnya statistik atau matematik, coba teliti dengan jeli apa yang telah kamu baca dari texbook, terus cobalah di applikasikan barang sekecil apapun. Contohnya, harga BBM tadi naik kira-kira ada pengaruhnya terhadap jumlah anak yang memutuskan berhenti sekolah di suata kampung (misal).

Yang ketiga adalah diskusi. Pada dasarnya diskusi sama saja dengan membaca. Secara pribadi saya lebih suka diskusi daripada membaca. Termasuk didalamnya ikut seminar dan pelatihan. Alasannya sederhana. Dalam komunikasi lisan akan tertransfer gagasan, atau ide, yang sudah terakumulasi. Hal ini lebih memudahkan kita untuk memilih bahan bacaan jika kita ingin mengambil tema tertentu. Sebagai tambahan, hal ini juga akan ada suatu process belajar bersama untuk memecahkan masalah, yang kita tak akan mendapatkannya dengan membaca (ya sebab membaca adalah adalah pribadi-sendiri).

Jadi begitu, untuk sementara saya cukupkan dulu. Saya akan lanjutkan insyaallah pada bagian kedua, dengan sedikit masalah-masalah teknis. Semoga berguna!

salam

w…



No Responses Yet to “Menulis untuk LKTI (1)”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: